| Pelacur ABG Jaja Seks di Sudirman |
| Rabu, 13 Januari 2010 | |||||||
BAJU ketat dipadu rok pendek di atas lutut. Hanya mengenakan sendal jepit sambil memegang handphone di tangan. Sesekali canda dan tawa cekikian terdengar. Menghiasi wajah kumpulan remaja perempuan yang masih terlihat belia itu, di Jalan Sudirman.Tidak ada yang menarik. Layaknya remaja yang senang berkumpul, mereka pun juga sama. Hanya saja, melihat penampilan mereka yang minim, sangat mencolok menghiasi udara yang sedang dingin-dinginnya. Malam kian larut, menunjukkan pukul 22.30 WIB saat Pekanbaru Pos berada tak jauh dari para remaja belia tersebut. Remaja belia tadi bergerombol membentuk kelompok-kelompok kecil. Ada empat kelompok kecil, masing-masing terdiri dari lima hingga enam remaja belia. Mereka memilih tempat duduk di kursi-kursi trotoar Jalan Sudirman yang diterangi lampu jalan penuh hiasan. Di antara aset milik Pemko Pekanbaru itulah, mereka ternyata bukan hanya sekedar berkumpul biasa. Saat ada kendaraan roda empat menepi, serta merta cekikikan mereka berhenti. Lalu salah satu dari mereka mendekati kaca mobil yang mulai terbuka pelan. Butuh waktu sekitar 10 menit, hingga akhirnya salah satu rekan mereka, memasuki mobil yang kemudian melaju kencang. Begitulah seterusnya. Kendaraan yang menepi bervariasi. Ada mobil kelas atas seperti Toyota Crush hingga oplet yang isinya beberapa remaja lelaki yang masih berusia belia juga. Bahkan tak jarang, yang menepi dan berhasil memboyong remaja putri belia itu, hanya sekelas motor motor bebek. Kegiatan prostitusi di salah satu jalan protokol Kota Pekanbaru tersebut, bukanlah fakta biasa. Namun sudah menjadi pengetahuan banyak orang, terutama yang berada di sekitar Jalan Sudirman. Seperti yang dikatakan oleh Marwan (24), seorang tukang parkir yang selama ini sering mangkal di seputaran jalan besar tersebut. ‘’Setiap malam, isinya ABG-ABG semua. Sejak pukul 20.00 WIB sampai tengah malam mereka ada di sini. Ya macam-macam lah harganya. Ada yang cuma Rp20 ribu sampai bisa diajak menginap. Tinggal pilih saja kalau mau,’’ kata Marwan enteng. Ironisnya, Marwan bahkan mengaku punya banyak kenalan wanita-wanita belia itu yang ternyata sebagian besar masih berstatus pelajar di Kota Pekanbaru. ‘’Mereka kebanyakan ya masih bersekolah. Rata-rata SMP dan SMA. Rumah mereka juga dekat-dekat sini juga. Tidak jauh-jauh,’’ katanya. Penasaran, Pekanbaru Pos coba mendekati salah satu di antara ABG penjaja cinta tersebut. Ternyata, bukan persoalan mudah. Begitu ada yang mendekat dan bertanya-tanya, para ABG ini langsung memandang curiga. Bahkan mereka sengaja menghindar dengan menjawab sekenanya. ‘’Maaf ya, kami cuma duduk-duduk saja di sini. Tak usah tanya-tanya. Kakak ini seperti wartawan saja,’’ kata mereka dengan nada terdengar tak nyaman. Yuni, sebut saja demikian, salah satu remaja belia yang bersedia sedikit memberikan keterangan. Kata Yuni, kebiasaan duduk-duduk di pinggir Jalan Sudirman, baru beberapa bulan ini di jalaninya bersama dengan teman-teman seusianya yang ternyata masih bertetangga. Tanpa mau menyebutkan alamat rumahnya, Yuni mengatakan bahwa kegiatan tersebut mereka lakukan atas dasar iseng saja. ‘’Cuma iseng saja. Dari pada suntuk di rumah lebih baik kumpul-kumpul begini. Kalau memang ada yang mengajak, ya diterima saja. Cuma buat senang-senang aja, tidak lebih,’’ kata Yuni singkat. Endik (31), seorang pedagang mengatakan, bahwa prostitusi di kalangan remaja tersebut sudah menjadi pemandangan tiap malam di Jalan Sudirman. ‘’Mereka biasanya berkelompok-kelompok berdasarkan usia. Ada juga yang usianya sudah di atas 30 tahun. Ada juga yang di bawah 20 tahun alias remaja. Kalau yang remaja-remaja ini seringnya duduk di pinggir Jalan Sudirman,’’ kata Endik. Ternyata, bukan hanya Jalan Sudirman saja yang menjadi lokasi transaksi prostitusi terang-terangan. Salah satu aset Pemko Pekanbaru lainnya yang disalahgunakan adalah Taman Kota yang berada di Jalan Diponegoro, tepatnya di samping Hotel Aryaduta Pekanbaru. Di lokasi ini, meski hari mulai larut malam, beberapa wanita dengan pakaian minim terlihat duduk-duduk sendirian. Kata pedagang yang biasa mangkal di sana, pemandangan itu sudah biasa. Saat didekati, ternyata hanya dandanan mereka saja yang menor seperti sudah berumur tua, tapi nada suaranya, terdengar suara keluguan layaknya remaja belia kebanyakan. ‘’Cuma duduk-duduk aja, tidak nunggu siapa-siapa. Suntuk aja di rumah,’’ kata seorang remaja belia yang didekati Pekanbaru Pos. Dilihat dari dandanannya, remaja yang diperkirakan masih berusia belasan tahun ini, memang sengaja mempercantik diri. Ketika ditanya lebih lanjut, remaja belia yang mengaku masih berstatus pelajar SMK tersebut, enggan untuk menjawab. ‘’Maaf, sudah ditunggu teman,’’ katanya beranjak pergi dengan sendal tumit tinggi yang menghiasi kaki. ‘’Beginilah Kota Pekanbaru sesungguhnya di waktu malam. Jangan hanya memikirkan menutup lokalisasi Teleju saja. Yang jelas-jelas di depan mata, pelajar pula, tidak bisa diawasi oleh pemerintah dan orangtua. Meski Teleju tutup, prostitusi saya yakin masih marajalela di kota ini,’’ ujar Aprizal (40), seorang warga kota.(afz)
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelum | Berikut > |
|---|


BAJU ketat dipadu rok pendek di atas lutut. Hanya mengenakan sendal jepit sambil memegang handphone di tangan. Sesekali canda dan tawa cekikian terdengar. Menghiasi wajah kumpulan remaja perempuan yang masih terlihat belia itu, di Jalan Sudirman.