| Dulmatin Sudah Empat Kali Mati |
| Kamis, 11 Maret 2010 | |||||||
|
JAKARTA-Akhirnya pemerintah, melalui Kapolri dan Presiden SBY mengumumkan bahwa teroris yang ditembak mati di Pamulang, Tangerang salah satunya adalah Dulmatin. Dulmatin termasuk gembong teroris paling dicari. Bahkan pemerintah Amerika Serikat pernah berjanji akan memberi hadiah 10 juta dolar AS bagi yang berhasil menangkap atau membunuh Dulmatin. ‘’Saya bawa kabar baik yang akan saya umumkan pada Anda,’’ kata Yudhoyono yang kini berada di Australia. ‘’Polisi sukses menggerebek teroris yang bersembunyi di Jakarta. Saya konfirmasikan salah satu yang tewas adalah Dulmatin, satu dari gembong teroris Asia Tenggara yang kita buru,’’ tambah dia. SBY sengaja mengumumkan kematian Dulmatin dalam lawatannya di Australia, Rabu 10 Maret 2010. Padahal Polri sendiri berulang kali menolak menyebutkan identitas sebenarnya pria yang tewas dalam penyergapan di Ruko Multiplus, Pamulang, Tangerang, tersebut. Dengan kepastian yang disampaikan oleh SBY kemarin, berarti ini untuk keempat kalinya Dulmatin dinyatakan tewas. Sebelumnya ia sudah pernah tiga kali diumumkan tewas oleh pemerintah Filipina. Tahun 2002 setelah sukses merancang Bom Bali I, Dulmatin dikabarkan lari ke negeri itu. Tahun 2005, Dulmatin dipikir telah mati dalam serangan udara oleh militer Filipina. Januari 2007, militer Filipina menyebut Dulmatin telah terluka. Tiga kali Dulmatin dikabarkan mati di sana, namun tak pernah ada konfirmasi jelas soal itu. Dulmatin yang asal Pemalang, Jawa Tengah, dikenal juga sebagai Joko Pitono, Amar Usman, Joko Pitoyo, Abdul Matin, Pitono, Muktarmar, Djoko, dan Noval. Di Pamulang inisial YI alias Yahya Ibrahim alias M, diduga nama samarannya yang lain. Dia adalah buronan tiga negara. Dalam serangan bom bunuh diri di Klub Malam Sari di Bali dan Bar Paddy, total 202 orang tewas. Korban bom adalah warga dari 20 negara berbeda. Serangan ini merupakan yang paling mematikan dalam sejarah Indonesia. 100 Persen Dulmatin Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menegaskan jenazah dengan identitas 001 yang dibawa ke RS Polri, Selasa (9/3) siang adalah Dulmatin alias Yahya alias Mansyur alias Joko Pitono. Kepastian jenazah teroris yang tewas itu Dulmatin diketahui pukul 10.00 WIB, Rabu 10 Maret 2010. Identitas tiga teroris ini sudah dilaporkan kepada Presiden SBY dan Wapres Boediono. ‘’Untuk identitas 002 adalah jenazah Ridwan sebagai pengawal dan 003 adalah Nur Hasan yang juga pengawal. Sedangkan 001, 100 persen dengan tingkat kekeliruan 1 : 100 ribu triliun, betul dan bisa dipertanggungjawabkan yang bersangkutan adalah Dulmatin alias Yahya alias Mansyur alias Joko Pitono,’’ kata Kapolri. Ketiganya ditembak mati dalam penggerebekan di Pamulang, Tangerang. Kapolri sendiri tidak menyebutkan apakah jenazah 001 yang tewar di Ruko Multiplus atau di rumah Gang Asem, Jalan Setiabudi, Tangerang. Namun berdasarkan fakta kemarin, jenazah yang pertama dibawa ke RS Polri Kramatjati adalah pria berjenggot yang ditembak mati di Ruko Multiplus, menyusul kemudian dua jenazah yang ditembak di Gang Asem. Kapolri menyebut Dulmatin lebih hebat dari gembong teroris Dr Azahari. Dulmatin lebih ahli membuat bom daripada Azhari. BHD mengatakan Dulmatin adalah orang yang berperan sebagai pemasok senjata dan logistik bagi kegiatan teroris. Menurut Kepala Kepolisian RI, Jenderal Bambang Hendarso Danuri, Dulmatin adalah tokoh sentral di Aceh. Sebelum tewas, Dulmatin memberikan perintah pada pengikutnya yang masih hidup. ‘’Di beberapa daerah ada perintah untuk fa’i, dengan kekerasan. Ini sudah diperintahkan oleh Dulmatin untuk tersangka yang masih hidup,’’ kata BHD saat konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu 10 Maret 2010. Namun demikian, Bambang Hendarso enggan menjelaskan strategi yang digunakan oleh para teroris dalam melakukan aksinya. ‘’Yang jelas ada pelatihan di sana (Aceh), ada strategi,’’ kata dia. Sahabat Dulmatin, Farihin juga sangat yakin Dulmatin tewas dalam aksi penggerebekan di Jalan Asem, Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangerang, Selasa 9 Maret 2010 kemarin. ‘’Iya, sekarang saya yakin yang tewas itu sahabat saya Dulmatin,’’ kata Farihin. Menurutnya, keyakinan tersebut setelah mendapat informasi dari kepolisian dan mendengar ciri-ciri yang dimiliki Dulmatin. ‘’Saya baru akan melihat jenazahnya nanti,’’ tuturnya singkat. Keluarga Minta Maaf Keluarga pun meminta maaf atas segala yang dilakukan buruan Interpol sejak 2002 itu. ‘’Keluarga menyatakan meminta maaf,’’ ujar kakak Dulmatin, Azzam Baabud. Azzam mengakui jika mungkin saja ada perubahan mendasar pada adiknya selama ia tidak pernah pertemu lagi. ‘’Sudah sekitar 12 tahun sudah tidak ada kontak lagi dengan keluarga,’’ ucap Azzam. Saat Kapolri Jenderal BHD memperlihatkan foto Dulmatin dalam jumpa pers di Mabes Polri yang disiarkan langsung sejumlah televisi, Azzam nampak memperhatikan dengan seksama. Raut mukanya kerap kali terlihat sedih. Sesekali dia mengusap wajahnya.(vnc)
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelum | Berikut > |
|---|

