| Listrik Riau Perlu Penanganan Radikal |
| Kamis, 22 Juli 2010 | |||||||
JAKARTA—Krisis listrik di Riau masih saja terus terjadi. Dampak krisis semakin terasa, apalagi saat musim kemarau sudah tiba. Kelistrikan Riau hingga saat ini masih bergantung pada interkoneksi dari Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Apa sebenarnya yang terjadi?
‘’Saya sendiri heran, mengapa dari dulu tidak diprediksi masalah kelistrikan di Riau ini. Karena ternyata, pembangunan dan percepatan ekonomi di Riau demikian luar biasanya. Banyak mal, perkantoran, perumahan baru dibangun, perusahaan dan semuanya minta listrik. Melihat perkembangan yang semakin tinggi ke depan, Riau butuh segera memulai penanganan listrik yang radikal,’’ kata Direktur Utama PLN Dahlan Iskan dalam diskusi masalah kelistrikan bersama Forum Pemimpin Redaksi Jawa Pos National Network (JPNN) di Hotel Ciputra, Jakarta, Selasa (20/7) malam. Dikatakan Dahlan, hingga saat ini Riau masih membutuhkan suplai listrik dari Sumut dan Sumbar. Sementara di Sumut dan Sumbar sendiri, kebutuhan listrik juga terus meningkat. Mau tak mau, Riau ke depannya harus memikirkan membangun pembangkit listrik secara mandiri dan tidak lagi bergantung pada interkoneksi. Usaha ini, kata Dahlan, sebenarnya telah dimulai. Di antaranya adalah dengan membangun PLTU 200 MW di Tenayan Raya yang baru akan selesai sekitar 2 tahun lagi. ‘’Mengapa tidak besar-besaran di Riau? Karena kebetulan kualitas batu bara di Riau ini kurang baik. Makanya saya berpandangan, di Riau ini lebih cocok untuk PLTG (tenaga gas) saja. Kalau mau krisis lebih cepat ditangani di Riau, maka lebih baik PLTU dibangun besar-besaran di Sumsel, nanti sisa produksi baru ditransfer ke Riau. Transmisi sudah ada dan itu lebih murah dan lebih cepat dari PLTU Tenayan Raya,’’ kata Dahlan. Karena PLTG lebih cocok untuk Riau, Dahlan pun memberikan pesan agar potensi gas yang cukup besar di Riau, dapat optimal dimanfaatkan Pemerintah Daerah untuk kepentingan daerah dan bukan untuk memberikan keuntungan kepada para pengusaha ataupun investor bidang kelistrikan. ‘’Saya dengar kabar, saat ini Pemda katanya mau rebutan gas. Itu sangat tidak baik. Saya setuju 100 persen kalau memang dimanfaatkan untuk listrik daerah, tapi kalau hanya untuk mementingkan investor saja nantinya, saya tidak rela. Potensi untuk PLTG di Riau adalah solusi mengatasi kelistrikan di sana,’’ tegas Dahlan. Diuntungkan Musim Krisis listrik di Riau tahun ini diperkirakan tidak akan separah tahun-tahun sebelumnya. Dahlan Iskan mengatakan bahwa semuanya bukan karena kehebatan PLN, namun berkat pertolongan Tuhan. ‘’Musim hujannya datang lebih cepat. Waduknya jadi penuh semua. Kemarau lebih pendek. Artinya, kalau krisis listrik ini teratasi, bukan karena kehebatan PLN. Namun berkat pertolongan Tuhan dan saya sangat bersyukur sekali. Sementara itu, kita terus upayakan menyelesaikan pembangkit darurat di Riau,’’ kata Dahlan. Ditambahkan Dahlan, selain karena diuntungkan musim, krisis listrik di Riau mulai dapat teratasi karena beberapa transfer listrik dari pembangkit seperti dari Pangkalan Susu sebesar 400 MW dan Labuhan Angin sebesar 230 MW. ‘’Kalau ada yang bertanya, kapan daftar tunggu listrik atau krisis di Riau dapat teratasi, saya perkirakan sekitar 2 tahun lagi. Paling cepat 1,5 tahun lagi. Beberapa pembangkit dan solusi yang kita siapkan mudah-mudahan dapat bekerja dengan baik. Paling tidak, kemarau tahun ini Riau bisa selamat dari krisis,’’ katanya. Salah satu solusi untuk mengatasi krisis listrik di Riau dan Sumatera pada umumnya, saat ini kata Dahlan, PLN tengah menyiapkan solusi menahan volume bendungan Danau Maninjau di Sumatera Barat. Selama ini PLTA Maninjau beroperasi selama 24 jam tanpa henti. Akibatnya, untuk menggerakkan turbin, membutuhkan volume air yang besar meski tidak pada jam beban puncak. ‘’Ke depan, kita rencanakan untuk menahan laju air dengan mematikan turbin pada jam-jam tertentu. Misalnya dari jam 9 malam sampai jam 4 sore ditutup dulu, nanti jam 5 sore pada jam beban puncak baru dibuka. Jadi mesinnya tidak diperkosa biar volume airnya cukup besar menghasilkan listrik. Solusi ini sedang kita pelajari, mudah-mudahan juga bisa membantu suplai listrik ke Riau,’’ jelas Dahlan.(afz)
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelum | Berikut > |
|---|


JAKARTA—Krisis listrik di Riau masih saja terus terjadi. Dampak krisis semakin terasa, apalagi saat musim kemarau sudah tiba. Kelistrikan Riau hingga saat ini masih bergantung pada interkoneksi dari Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Apa sebenarnya yang terjadi?